Terkait Dugaan Penggelapan, 2,7 Tahun Laporan Rosliani di Polsek Sei Kanan “MENGENDAP”

banner 468x60

hariancentral.com | Labusel : Nurhayati seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai tenaga honor di unit Intel Polres Labuhanbatu diduga telah melakukan penipuan dan penggelapan terhadap Rosliani Dalimunthe sebesar 60 Juta rupiah.

Rosliani Dalimunthe, (27), korban penipuan dan penggelapan tersebut adalah Warga Desa Marlaung, Kec. Ujung Batu Jae, Kab. Padang Lawas Utara (Paluta), saat ditemui Wartawan dirumahnya, Sabtu (1/1/22) mengatakan bahwa dirinya telah melaporkan pelaku ke Polsek Sei Kanan di Langgapayung pada tanggal 20 mei 2018 silam namun penyidik Polsek Sei Kanan tak kunjung menetapkan pelaku sebagai tersangka.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Rosliani pun menjelaskan kronologis penipuan yang dialaminya itu berawal dari kedatangan pelaku ke rumah pamilinya di desa marlaung pada awal tahun 2015 yang lalu.

” Rumah pamili pelaku tidak jauh dari rumah orang tua saya. Mungkin dari sanalah dia mencari informasi tentang saya kemudian saya dihubungi supaya datang kerumah pamilinya itu, setelah kami bertemu, dia memperkenalkan diri bernama Nurhayati bekerja di unit intel polres Labuhanbatu.

Dia mengatakan kepada saya bahwa dirinya bisa menjadikan saya menjadi bidan PTT di Kabupaten Padang Lawas Utara atau Kabupaten Labuhanbatu dengan syarat membayar uang sebesar 60 juta rupiah untuk biaya kepengurusan,” kata Rosliani mengutip perkataan pelaku.

Rosliani yang saat itu bekerja sebagai tenaga kerja sukarela (TKS) di Puskesmas Kec. Ujung Batu Jae, merasa tertarik dengan tawaran pelaku yang bisa menjadikannya menjadi bidan PTT langsung menyetujui jumlah nominal yang ditetapkan pelaku sebesar 60 juta rupiah dengan kesepakatan dua kali bayar.

“Saat itu saya serahkan uang sebesar 30 juta rupiah sebagai panjar kemudian berselang beberapa hari sisa 30 juta rupiah lagi saya serahkan, saya antar ke SPBU Dusun Sukajadi Kec Sei Kanan karena pelaku menunggu saya disana,” kata Rosliani.

Rosliani menegaskan setelah dirinya membayar lunas biaya kepengurusan bidan PTT tersebut pelaku menjadi sulit dihubungi.

“Empat kali saya datang menemui pelaku ke rumahnya di Rantauprapat tetapi jawaban pelaku kian tidak menentu membuat saya sadar telah terperangkap penipuan. Kemudian saya meminta kepada pelaku supaya membuatkan kwitansi tanda terima sebesar 60 juta rupiah sebagai bukti penyerahan uang dan surat pernyataan pertanggung jawaban dan pelaku memenuhinya,” kata Roslian.

Ia juga memperlihatkan copy kwitansi tanda terima sebesar 60 juta rupiah dan copy surat pernyataan pelaku tertanggal 3 mei 2018 ditandatangani kedua belah pihak berbunyi benar pihak kedua Nurhayati, telah menerima uang sebesar 60 juta rupiah dari pihak pertama Rosliani untuk pengurusan honor daerah di Kesehatan dan apabila pada bulan juli 2018 pihak pertama tidak bekerja di kesehatan sebagai honor daerah maka uang pihak pertama dikembalikan pihak kedua.

Lebih lanjut korban mengatakan setelah menunggu sampai bulan juli 2018 sebagaimana bunyi surat pernyataan pelaku ternyata tidak terbukti maka harapan untuk menjadi Bidan PTT sirna kemudian melaporkan masalah ini ke Polsek Sei Kanan pada tanggal 20 mei 2019 dengan bukti STPL Nomor V/Res.1.11.2019/SU/Res LBH/SEK SEI KANAN,”

Lanjutan dari STPL tersebut Polsek Sei Kanan menerbitkan tiga surat, yang pertama adalah surat panggilan terhadap saksi Hotlan Rambe, yaitu surat nomor: Sp.Gil/77/V/2919 tanggal 29 mei 2019, dan yang kedua surat pemberitahuan perkembangan hasil penelitian laporan nomor B/58/V/2019/Reskrim tanggal 27 Mei 2019 kemudian yang terakhir Surat Nomor B/70/VI/Reskrim tanggal 28 juni 2019 perihal perkembangan pemberitahuan hasil penyelidikan akan tetapi surat-surat yang diterbitkan polsek Sei Kanan itu seolah-olah tidak berpengaruh terhadap pelaku dengan bukti sampai saat ini pelaku tetap bebas tidak menjalani proses hukum,”.

Korban juga membeberkan sewaktu dirinya hendak melaporkan pelaku di Polsek Sei Kanan pada awal tahun 2019 lalu terjadi komunikasi antara Kanit Ipda Amlan dengan pelaku. Kanit Amlan seakan tidak percaya dengan fakta yang terjadi langsung menghubungi pelaku via selulernya sehingga terdengar kalimat pelaku minta tolong supaya laporan dipending dengan alasan akan segera mengembalikan uang pelapor.

“Saya melapor karena pelaku bolak balik berjanji akan ? pelaku mengakui akan mengembalikan uang saya dengan segera maka laporan pertama itu dipending,” kata korban sambil menyebutkan jika dirinya datang ke mapolsek sei kanan saat itu didampingi uwaknya bernama
Selanjutnya kanit res di gantikan oleh Kanit Iptu Limbong, ketika melakukan gelar perkara bersama teduga pelaku, Pelaku mengakui segala kesalahannya, dan bersedia mengembalikan wang tersebut sebanyak tiga puluh juta dengan cara memcicil. Sedangkan yang tigapuluh juta lagi di berikannya pada suaminya bernama Maranaek hasibuan.

Rosliani juga mengatakan asli barang bukti berupa kwitansi tanda terima uang sebesar 60 juta dan surat pernyataan pertanggung jawaban dari pelaku telah diserahkannya di Polsek Sei Kanan sewaktu membuat laporan sehingga merasa kesulitan untuk memindahkan laporan ke jajaran Kepolisian yang lebih tinggi tanpa alat bukti tersebut.

“Saya sudah tidak percaya dengan pola kerja aparat Polsek Sei Kanan, penipuan dan penggelapan yang saya laporkan sampai saat ini sudah berjalan selama dua tahun lebih tapi pelaku tidak diproses, saya curiga pelaku tidak akan pernah diproses karena dekat dengan polisi dan hal ini terindikasi dari posisi pelaku yang bekerja di unit intel Polres Labuhanbatu, dan saya berharap lewat bapak-bapak wartawan kiranya menyampaikan penderitaan yang saya rasakan ini kepada Bapak Kapolri di Jakarta,”pintanya.

Terkait permasalahan yang dialami korban dan tindak lanjut laporannya di Polsek Sei Kanan, Kapolsek AKP. Herry Sugiarto,SH.MH ketika dikonfirmasi wartawan via selulernya membenarkan adanya laporan Rosliani di Polsek Sei Kanan tentang penipuan dan penggelapan dan telah dilakukakan proses penyidikan, bahkan sudah sempat dilakukan gelar perkara namun menemui kendala dalam penyidikan kasus tersebut karena suami kedua belah pihak selaku saksi sulit untuk dijumpai,”katanya.

Kapolsek juga menambahkan jika yang menyerahkan uang dan penerimanya adalah suami pelapor dan suami terlapor bukan pelapor atau terlapor dan inilah kendala sebenarnya.
“Bantu kami untuk menemukan suami pelapor dan terlapor,” katanya lagi.

Ditanya tentang alat bukti berupa kwitansi dan surat pernyataan pertanggung jawaban pelaku yang diserahkan korban kepada penyidik saat membuat laporan tahun 2019 dan korban bermaksud meminta alat bukti tersebut, Kapolsek dengan tegas menjawab boleh dijemput tapi pelapor harus mencabut laporannya.
( Negos)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *