Christian Malau, Membantu Ibu selama 4 Tahun Tak Dibelanjai Bapak, “Mengadu ke LPAI kota T.Tinggi”

banner 468x60

hariancentral.com | T.Tinggi : Christian R.Malau  meski masih berumur 10 tahun namun harus siap membantu ibu berjualan ubi dan menjaga 2 adiknya.

Keprihatinan ini membuat ibundanya Reka  Dewi Hutagalung mengadu ke Lembaga Perlindungan Anak.Indonesia (LPAI) Kota T.Tinggi atas penelantaran oleh bapak kandung mereka bernama Noris Leaser Malau. Pengaduan itu ditampung oleh Ketua LPAI T.Tinggi, Eva Novarisma Purba, di Sekretariat LPAI T.Tinggi Jl. Gatot Subroto, T.Tinggi, Kamis (3/2/2022) bertepatan ekspose terbentuknya LPAI kota T.Tinggi.

Reka Dewi Hutagalung mengatakan anaknya 3 orang,  sudah 4 tahun terakhir ini tidak pernah mendapat uang belanja dari suaminya Noris Leaser Malau. Sejak mereka berpisah,  Dewi mengharapkan Noris Malau dapat memberikan bentuk tanggung jawab terhadap ketiga anaknya. Semua kebutuhan anaknya selama 4 tahun ini ditanggulanginya dengan berjualan (marengge-rengge) dari jam 3 subuh. Anak-anak dibawa ke pasar.

Terkadang anak-anak masih tidur ia sudah mengangkut anak-anak naik becak mesin. Anaknya yang paling besar Christian Malau yang kini kelas 4 SD Advent di Kota T.Tinggi membantunya jual ubi  di Pasar Inpres Kota T.Tinggi.

Dewi mengaku yang ia kuatirkan, kalau anak-anak sakit namun hal yang ditakutkannya itu tidak terjadi. Tidak ada tempat pengaduan bagi Dewi kecuali memendam di dalam doa di rumah kontrakannya di Jalan Danau Matana Kota T.Tinggi.

Menurut Dewi suaminya terakhir keberadaannya di Jalan Sei Beras Sekata, Kompleks Tamsi, no 2 Pajak Melati Medan. Namun menurut informasi dari salah seorang saudaranya suaminya itu telah pindah dari rumah itu dan pula sudah menikah lagi dengan wanita lain. Percekcokan rumah tangga yang membuat Dewi tidak tahan serumah dengan suami dan membawa ketiga anaknya ke kota T.Tinggi. Ia berharap suaminya memberikan nafkah bagi ketiga putra putri mereka meskipun suaminya sudah menikah dengan wanita lain. Dewi sudah berupaya menempuh jalan agar keluarga pihak suaminya, Noris Malau dapat menggugah hati Noris untuk menghidupi anak-anak mereka. Namun keluarga suaminya mengatakan bahwa Noris sudah kawin lagi dan juga sudah mempunyai anak.

Christian sangat mengharapkan agar bapaknya, Noris Malau masih mengingatnya dan kedua anaknya dan bertanggungjawab menghidupi mereka. Christian meskipun masih kecil namun harus membantu ibunya berjualan dan merawat adik-adiknya karena kasihan pada ibunya yang harus membanting tulang baik siang maupun malam mencari nafkah.

Ketua LPAI  Tebing Tinggi Eva Novarisma Purba mengungkapkan perlunya pendekatan semua pihak baik dari keluarga Noris Malau untuk memberikan bantuan terhadap anak-anak yang broken home. Agar anak-anak yang single parent tidak menanggung sendiri beban membesarkan anak dan menghidupi anak. “Janganlah seorang ibu yang sudah sakit melahirkan juga dibebankan sendirian untuk menghidupi anak-anak yang dilahirkannya. Itu tidak manusiawi,” ujar Eva. Dalam hal ini LPAI akan mencoba menghubungi baik pihak keluarga Noris Malau maupun institusi terkait agar ada upaya terbaik buat keluarga broken home ini.

 

Ketua LPAI Kota T.Tinggi Eva Novarisma mengatakan bahwa LPAI Kota T.Tinggi masih baru terbentuk. Salah satu tanggung jawab LPAI terhadap masyarakat adalah menjadi wadah pemerhati sosial masalah perempuan dan anak. Sebagai lembaga independen LPAI akan merespon dan melakukan pendampingan untuk segala persoalan yang timbul terhadap perempuan dan anak-anak.

Terbentuknya lembaga ini di kota T.Tinggi merupakan jembatan mencari solusi baik antar personal maupun institusi pemerintah. Dalam waktu dekat LPAI akan melakukan audiensi baik ke Walikota Tebing Tinggi dan juga satker terkait maupun kepolisian, kejaksaan dan pengadilan negeri kota T.Tinggi. (asmi)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.